Sore di rumah selalu punya ritme sendiri. Ketika matahari mulai merunduk di balik atap, aku merasa seperti mendapati diri sendiri sedang menyiapkan panggung kecil untuk malam hari yang tenang. Aku tak perlu lampu neon atau proyek besar untuk merasa hidup. Cukup secarik kain bekas, sebotol kaca yang kupakai sebagai vas, dan secarik waktu untuk menyapu debu dari meja dapur yang sering jadi markas kerempongan ide-ide. Di sore seperti ini, aku mulai dengan hal-hal sederhana: dekorasi kecil yang bisa kita pakai ulang, kerajinan tangan yang tidak butuh alat berat, dan journaling yang mengikat cerita hari ini. Kadang aku menaruh buku catatan di lantai sebagai tembok kecil yang mengingatkan aku untuk menulis sebelum pintu tertutup. Buku itu berisi target mingguan sederhana: satu proyek kecil, satu catatan rasa syukur, satu ide untuk esok. Aroma kopi masih mengambang, sendok teh menunggu, dan radio kecil di dapur memantapkan ritme kita. Aku senang karena hal-hal kecil justru membuat malam terasa layak dinanti, seperti ada janji sederhana yang bisa kita sayangi.
Serius: Ruang Nyaman sebagai Studio Sederhana
Ruang tamu, bagiku, bukan sekadar tempat duduk. Ia seperti kanvas di mana kita menaruh kisah sehari-hari. Aku menganggap dekorasi sederhana sebagai cara menghargai rumah. Misalnya, aku menata beberapa item yang punya cerita: botol kaca bekas untuk vas, kain sisa jahitan untuk taplak mini, dan lampu meja yang redup untuk cahaya hangat. Aku tidak mengubah ruangan secara drastis; aku hanya membatasi palet warna pada ruangan itu: putih gading, hijau daun, dan sentuhan kayu alami. Hasilnya, ruang terasa lebih tenang, bukan penuh bunyi warna, dan aku bisa bernapas lebih lega saat menutup pintu. Aku menambah satu tanaman kecil di sudut, menata buku-buku lama seperti menumpuk cerita yang ingin diceritakan lagi. Bahkan, kursi kayu tua yang dulu hanya jadi tempat duduk sekarang terasa dekat dan ramah, seolah mengundangku untuk duduk lebih lama dan membiarkan ide mengalir tanpa tekanan.
Santai: Dekorasi Sederhana untuk Sore yang Manis
Mengubah mood sore bisa sesederhana menata bantal, menambah tanaman kecil di sudut, atau mengganti tirai dengan kertas washi yang bisa dicabut-pasang. Aku suka hal-hal yang tidak butuh waktu lama: lilin buatan sendiri dari sisa lilin, atau membuat hiasan dari tali rafia yang dibentuk simpul-simpul. Yang penting, tidak ada biaya besar dan tidak menyita malam kita. Intinya, dekorasi kecil saja sudah memberi efek besar: ruangan terasa lebih hidup, kita lebih santai, dan percakapan malam jadi lebih ringan. Aku juga sering mencoba kombinasi tekstur: kain linen yang halus dengan potongan kulit kayu, atau kaca bening yang diletakkan di samping vas kaca tua agar cahaya sore bermain-main di lantai. Terkadang aku menyelipkan cat dinding tipis di satu sisi sudut, tidak menutupi, hanya memberi aksen yang membuat ruangan terlihat punya karakter tanpa kehilangan kenyamanannya.
Journaling Kreatif: Menulis untuk Menata Hari
Journaling selalu jadi bagian favorit soreku. Aku menulis tiga hal yang membuatku bersyukur hari itu, tiga hal yang ingin kupelajari esok, dan satu hal kecil yang ingin kupelihara. Terkadang aku menggambar cepat sketsa kursi di teras atau menuliskan dialog imajinatif antara dua tanaman di kaca jendela. Aku mencoba tidak menilai tulisan sendiri; cukup menumpuk kata-kata yang membawa tenang. Untuk inspirasi journaling, aku kadang mampir ke nanetteslittlenook, situs itu sederhana, praktis, dan ramah kepala yang capek; ya, itu membantu aku keluar dari pola menghakimi diri sendiri. Sesekali aku menambahkan kolom kecil: “apa yang ingin kulakukan hari ini,” “apa yang kuabaikan,” dan “apa yang membuatku tersenyum meski lelah.” Rasanya journaling jadi semacam ritual ringan yang mengikat perasaan agar tidak kebablasan.
Kerajinan Tangan: Hasil Tangan, Puas Rasa
Kerajinan tangan sering menjadi penyeimbang sore. Aku mulai dari hal-hal yang tidak membebani alat: kertas bekas untuk membuat kolase sederhana, tarikan kain sisa untuk membuat flap note holder, atau membuat bingkai foto dari potongan karton bekas. Aku tidak jago rapi, jadi aku justru suka kesimpulan spontan: lem putih mengering di tangan, sisa benang membentuk simpul yang lucu, dan warna-warna netral terasa nyaman. Aku juga suka menaruh kerajinan itu di rak dekat jendela, jadi setiap hari aku melihatnya dan teringat bahwa “karya kecil” juga berarti. Kadang kerajinan membuatku merasa bertanggung jawab pada rumah—bukan karena perfeksionisme, tetapi karena ada sesuatu yang kita ciptakan bersama. Dalam prosesnya, aku belajar bahwa kerajinan tak harus sempurna; yang penting adalah ada jejak usaha yang bisa kita lihat, rasakan, dan bagikan pada orang terdekat.
Ketika matahari benar-benar tenggelam, aku menaruh alat-alat itu rapi, menutup jurnal, dan menyapu sisa debu di kursi kayu. Sore di rumah bukan soal grandioso; ia tentang ritme manusiawi: jeda, nafas, mencoba hal baru dengan hal-hal yang ada. Dan esok, aku bisa memulai lagi dengan sedikit lebih percaya diri: sebuah ruangan yang terasa milikku, halaman kosong yang bisa diisi, cerita yang bisa ditulis, dan jari-jari yang lebih akrab dengan gunting, lem, dan kertas. Itulah makna DIY rumah bagiku: perasaan punya kendali kecil yang tak pernah lelah mengisi hari kita dengan hal-hal sederhana yang nyata.